Prosesi Lengkap Acara Seserahan Adat betawi hingga Prosesi Pernikahan Part I

Ingat dengan kata kata ini, Jakarte, anak betawi, si Doel , bukan lagi bahas mengenai film ini cumin beberapa kata yang sering kita dengar apalagi untuk anak angkatan tahun 90 an. Tentu tidak asing dengan kata-kata itu, ya itu merupakan cirri khas betawi, pada kesempatan kali ini kita akan membahas mengenai adat betawi dan lebih spesifik nya Adat betawi pada proses pernikahan.

Dalam pernikahan adat  Betawi merupakan adat pernikahan yang ada di Indonesia dan masih dilestarikan sampai saat ini. Adat pernikahan ini memiliki gaya yang khas dan unik. Berikut rangkaian prosesi adat Betawi yang kental dengan kebudayaannya.

Ngedelengin.

Ngedelengin, yaitu proses dimana kita mencari pasangan yang dapat dilakukan siapa saja termasuk calon mempelai pria itu sendiri. Biasanya proses ini di lakukan sebelum proses lamaran. Setelah bertemu dan merasa cocok, mereka yang mengikuti prosesi ini bisa melanjut ke tahap berikutnya yakni melangsungkan pertemuan dengan pasangan yang dirasa cocok. Ngedelengin juga dapat dilakukan oleh orang tua walaupun hanya pada tahap awalnya saja. Pada zaman dahulu ada cirri khas tersendiri untuk prosesi ini yaitu :kebiasaan menggantungkan sepasang ikan bandeng di depan rumah wanita bila si wanita tersebut sudah ada yang naksir. Biasanya ini di lakukan oleh Mak Comblang sesuai permintaan orang tua dari pihak pria.

Lamaran

Setelah selesai prosesi ngedelengin tahapan  selanjutnya lamaran. Lamaran ialah proses di mana pihak keluarga dari calon mempelai  pria mendatangi pihak keluarga calon mempelai wanita untuk melakukan prosesi lamaran secara resmi. Biasanya untuk prosesi ini, pihak keluarga mempelai pria mengirim beberapa orang sebagai utusan. Para utusan tersebut terdiri dari Mak Comblang dan dua pasang wakil orang tua dari calon pria, Prosesi ini biasanya dibarengi dengan membawa berbagai macam aneka makanan sebagai tanda hormat pihak keluarga pria kepada pihak keluarga wanita. Bawaan yang biasanya sering dibawa, yaitu sirih lamaran, pisang raja sebanyak dua atau tiga sisir, roti tawar empat buah, dan beberapa macam buah. Semua bawaan tersebut ditempatkan di piring besar atau nampan supaya orang lain dapat mengetahui bahwa saat itu ada upacara melamar pengantin.

Bawa Tande Putus

Setelah lamaran pihak calon mempelai pria diterima oleh pihak keluarga calon mempelai wanita, umumnya  seminggu kemudian pihak keluarga calon mempelai pria kembali mengunjungi pihak keluarga calon mempelai wanita untuk melaksanakan acara bawa tande putus. Tande putus merupakan  sebuah tanda yang mengibaratkan  calon pengantin wanita sudah dilamar dan tidak boleh diganggu oleh pihak manapun, walaupun  pelaksanaan resepsi dan acara akad nikah masih jauh. Biasanya prosesi ini di tandai dengan  pelamar memberikan sebuah cincin belah rotan sebagai tanda putus. Selain memberikan tanda putus, dalam acara ini juga membicarakan tentang hari pernikahan, mahar yang diminta pihak keluarga wanita, nilai mata uang yang diperlukan dalam resepsi pernikahan, pelangke atau pelangkah, dan persiapan untuk acara resepsi.

Seserahan

Setelah hari pernikahan disepakati, barulah pihak keluarga calon mempelai pria menyiapkan barang-barang yang akan dibawa dalam acara seserahan.  acara seserahan biasanya dilaksanakan satu hari sebelum acara pernikahan. Zaman dulu dalam adat betawi, seserahan yang diserahkan oleh pihak keluarga pria berupa bahan-bahan yang akan digunakan dalam acara pernikahan, misalnya berupa beras, ayam, kambing, daging, sayur-mayur, bumbu-bumbu dapur, dan sebagainya. Semua barang tersebut ditempatkan di dalam peti kayu yang disebut shie. Namun sesuai dengan perkembangan zaman, hal-hal seperti itu jarang sekali dilaksanakan. Shie biasanya dibuat seperti peti kayu, kini berubah menjadi bentuk parsel. Pihak keluarga pria juga hanya tinggal memberikan uang belanja kepada pihak keluarga wanita dan beberapa barang yang dibutuhkan oleh calon pengantin perempuan, seperti pakaian, alat make up, sepatu, tas dan alat perlengkapan lainnya.